Thursday, May 9, 2013

USIA BOLEH TUA, TAPI SEMANGATMU HARUS MENYALA!


Pembaca, baru-baru ini saya memberikan seminar kepada sekitar 200-an para Lansia dalam acara yang diponsori oleh Sinar Pelangi. Meskipun rata-rata telah berusia 60 ke atas, yang datang dari berbagai kalangan gereja. Serunya, ternyata pada saat diajak belajar berjam-jam, berjoget maupun berdiskusi, mereka masih begitu antusiasnya!
Saya pun jadi teringat kembali dengan sebuah kisah yang pernah saya baca dan sering saya ceritakan. Ada sebuah cerita menarik dari Los Angeles. Seorang tua bernama Ernest Heyneman pada usianya yang ke-85, ditangkap karena telah mencuri 3500 buku dan video selama kurun waktu empat tahun. Pria pensiunan pegawai studio film ini kini dilarang memasuki perpustakaan lokal. Mau tahu bagaimana modus pencurian buku yang dilakukan Heynemen? Ia cukup cerdik. Dalam seminggu ia pinjam beberapa buku dan video untuk dibawa pulang. Lantas, ia mulai mencopoti tanda pengaman lalu ia kembalikan tepat waktu. Setelah itu, ia kembali lagi hari berikutnya untuk mulai menyelundupkan buku pilihannya tanpa terdeteksi saat melewati pintu pengaman. Hmmm, cara yang cukup cerdik meskipun tidak pantas diacungi jempol!
Bukti Tua Bukan Lemah
Nah Pembaca, siapa bilang bahwa tua harus lemah? Realita kisah menunjukkan bahwa tua tidaklah identik dengan lemah tak berdaya. Namun, acapkali kita mendengar bagaimana orang yang sudah tua, menggunakan ketuaannya sebagai alasan untuk ke-tidakproduktifan-nya, untuk kealpaannya serta kekhilafannya. Usia, kenyataannya bukanlah suatu pengambat untuk meraih yang lebih tinggi. Usia pun bukan kendala dalam hal karir dan kerja. Malahan, rambut putih adalah simbol kebijaksanaan dan pengalaman yang sangat berharga.
Banyak orang semakin percaya bahwa menjadi tua hanyalah ada dalam pikiran kita. Secara fisik, orang bisa menjadi jompo dan lemah, tetapi jiwa manusia tidak mengenal usia. Jiwa manusia mengandung potensi di luar batas dimensi fisik dan waktu. Karena itu, tatkala fisik telah renta dan melemah, jiwalah yang perlu dibina. Sayangnya banyak orang tua membiarkan dirinya digerogoti baik fisik maupun jiwanya. Menolak fisik menjadi tua adalah keniscayaan. Tetapi menolak jiwa menjadi tua, adalah pilihan.
Nah, bagaimana membangun jiwa yang terus-menerus muda?
Fun
Kegembiraan adalah makanan bagi jiwa. Seringkali dikatakan laughter is the best medicine. Mungkin humor dan gembira, tidaklah lantas membuat penyakit dan permsalahan kita lenyap total. Tetapi dengan melihat hidup dari sisi yang ceria, hidup terasa menjadi lebih nikmat. Lagipula, masalah hidup tidak pernah akan selesai. Ibarat gelombang, setelah surut, akan muncul pasang yang lain. Tetapi hati yang gembira adalah ibarat selancar yang membuat kita dapat menjalani segala pasang surut lautan kehidupan dengan rasa damai. Itulah sebabnya mereka-mereka yang berusia panjang, cenderung memiliki sense of humor yang baik dalam hidupnya.
Here and Now
Alkisah pernah suatu kali malaikat diutus kebumi untuk memberi hadiah kepada orang yang paling berbahagia di bumi. Namun, setelah berbulan-bulan mengelilingi bumi dari satu ujung ke ujung lain, tidak ditemukan seorang pun yang paling berbahagia. Ternyata, kebanyakan manusia tidak ada yang betul-betul menikmati dan bersyukur atas hidupnya. Kebanyakan hidup di dua alam, alam masa lalu dan masa depan. Akhirnya, hadiahnya pun dikembalikan pada Tuhan. Kehidupan bukanlah melulu soal usia. Bruce Lee membuktikan bahwa meskipun hidupnya pendek, namun ia dikenang dengan kontribusinya yang luar biasa bagi martial arts, seni bela diri. Itu sebabnya asalah satu rahasia awat muda yang lain adalah menikmati hidup kini dan disini. Kuncinya terletak pada kerelaan kita melepaskan masa lampau serta tidak terlalu banyak khawatir akan masa depan. Seperti kata Bruce Lee, “Yang penting bukanlah seberapa panjang anda hidup. Tetapi bagaimana anda hidup itulah yang penting”. Nikmatilah tarikan nafas Anda sekarang, itulah realita terpenting saat ini.
Tetap Aktif Fisik dan Mental
Jangan membiarkan pikiran maupun fisik menjadi terlalu lama beristirahat dan diam. Janganlah fisik kita, pikiran yang terlalu lama didiamkan pun akhirnya akan melemah. Konon, sumber penurunan daya otak yang terpenting adalah karena membiarkan otak kita tidak bekerja sama sekali. Fisik kita pun mestinya senantiasa bergerak pula. Para dokter dan paramedis tahu, jika fisik dibiarkan terlalu lama di suatu tempat tanpa bergerak maka akan mulai muncul borok di badan. Kenyataanya pula, mereka yang berusia panjang ternyata masih memiliki kesibukan dan masih menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan di usianya yang telah menjelang maghrib.
Jadi, benarlah kata iklan, “Menjadi tua itu pasti. Tetapi, menjadi muda itu soal pilihan”.

Emosi dan Imajinasi Kreatif Anda


“Logika bisa membawamu dari A ke B. Tetapi IMAJINASI bisa membawamu kemanapun”. Albert Eisntein adalah orang dibalik pepatah menarik itu. Masih ingat, ada pepatah lain dari Albert Einstein soal imajinasi yang lainnya, “Imajinasi lebih berkuasa daripada pengetahuan”.
Tapi, bebagai survei selalu mengatakan bahwa dengan bertambahnya usia kita, apa yang terjadi? Orang makin menurun imajinasinya! Well, saya setuju dan tidak setuju.
Setuju bahwa imajinasi orang dewasa semakin banyak batasannya. Namun juga tidak setuju karena kita sebenarnya masih tetap kreatif, hanya saja kita terlalu sibuk dengan berbagai pikiran serta terlalu sibuk mengikuti pola yang sudah ada, akibatnya kita jadi tidak banyak berpikir.
Saya teringat satu kisah. Seorang Ibu pulang membawa suatu botol alat pembersih model baru. Berkali-kali Ibu itu berusaha membaca aturan membuka botol obat pembersih itu dan tidak berhasil. Dengan berkerut-kerut si Ibu itu berusaha memahami apa yang tertulis, tidak berhasil juga. Akhirnya, si Ibu itu menyerah dan datanglah pembantunya, lantas dengan segera dan mudahnya, pembantu itu bisa membuka botol tersebut. Si Ibu itu bertanya, “Kok kamu bisa buka?”. Dan dengan singkat si pembantu itupun menjawab, “Iya, Ibu orang sekolahan, Ibu membaca. Saya nggak sekolah, jadi saya hanya bisa mengerahkan segala kecerdikan saya untuk bisa membuka botol ini!”.
Kenapa Makin Tidak Imajinatif
Menurut saya, faktor utama dan pertama dibalik tidak kretifnya manausia adalah soal emosi. Ingatlah dibalik sikap dan perilaku manusia, biasanya ada dorongan emosi. Lalu, apakah emosi yang ada dibalik imajinatif serta tidaknya kita? Ada dua kemungkinan. Entah karena kita merasa nyaman dan sudah enak dengan apa yang kita nikmati sekarang. Atau, memang kita takut dengan kerepotan maupaun kesulitan kalau seandainya kita berubah. Kadangkala, kita mendengar orang yang mengatakan, “Udah deh, yang sekarang un udah nyaman dan enak kok”. Sementara yang lain berkata, “Kalau berubah, bikin repot dan menambah kesulitan saja”. Tetapi bayangkanlah kondisi klasik ini. Bayangkan kalau tidak ada seorang Thomas Alva Edison yang mengimajinasikan adanya bola lampu listrik di rumah. Mungkin hingga sekarang, kita masih akan menggunakan lilin. Bayangkanlah kalau tidak ada dua tukang sepeda, Wight Bersaudara yang berani mencoba terbang pertama kali karena mengimajinasikan orang yang bisa terbang di langit bebas, saat ini kemanapun kita mungkin hanya lewat jalan darat dan laut. Betapa bersyukurnya kita, karena ada orang-orang nekat yang berani brimajinasi!
Ongkos Tidak Imajinatifnya Kita
Ongkos terbesar dari ketidakberanian kita untuk berimajinasi dan berpikir lebih kretaif, keluar dar tatanan yang ada saat ini adalah, kita akan terus-menerus berada pada situasi seperti sekarang. Dan mungkin saja, Anda pikir, “Kan nggak apa-apa dengan kondisi sekarang toh. Apa salahnya?” Memang, tidak ada salahnya, tetapi, masalahnya kondisi serta apa yang Anda alami sekarang ini mungkin tidak memadai lagi untuk 5 ataupun 10 tahun mendatang. Misalkan saja, dati sisi penghasilan dan taraf hidup Anda sekarang. Memang sih, kelihatannya dengan kondisi Anda saat ini, mungkin saja apa yang Anda peroleh sudah cukup. Tetapi, bayangkanlah 5 atau 10 tahun mendatang bahwa orang disekitar Anda bertambah julahnya (anak bertambah, barangkali) ataupun Anda mulai sakit-sakitan. Jadi disinilah persoalannya, ketika Anda tidak berubah, kondisi akan terus-menerus berubah. Jadi jika Anda tidak mengimajinasikan adanya perubahan, yang teradi adalah kehidupan kita menjadi semakin repot.
Bagaimana Membangun Imajinasi Kita
Pertama, ciptakan motif dan keinginan. Yakinkan diri kita bahwa apa yang kita nikmati saat ini mungkin tidak akan memadai lagi di masa yanga kan datang. Karena itu, beranilah mengimajinasikan sesuatu yang jauh lebih baik. Kedua, bayangkanlah bahawa sebenarnya ada cara yang lebih baik, pola yang lebih menyenangkan, hasil yang jauh lebih spektakuler kalau kita mau berusaha dan mencoba cara yang baru. Ingatlah, “Anda akan terus mendapatkan apa yang Anda dapatkan sekarang ini, kalau Anda tidak mencoba cara yang baru”.

Kurang Tidur? Anda Mesti Baca!


Di bulan Oktober 2009, dunia, khususnya di India, terkejut. Seorang pebisnis terkemuka CEO (Chief Operating Officer) perusahaan SAP di India, Ranjan Das, meninggal dunia dalam usia yang sangat muda 42 tahun. Soal meninggal, mungkin itu sudah biasa dan mungkin saja memang takdirnya. Tetapi menariknya, penyelidikan menunjukkan bahwa meninggalnya Ranjan Das ada hubungannya dengan soal tidur. Bahkan, dalam acaranya TV terkenal India yakni “Boss Day’s Out” yang masih bisa diakses hingga sekarang, Ranjan Das bercerita soal dirinya yang merasa kurang tidur. Rata-rata, ia hanya tidur sekitar 4 hingga 5 jam sehari. Padahal, Ranjan Das memperhatikan pola makan dan juga soal olah raga rutin. Nah, seberapa pentingnya tidur, bagi fisik dan EQ (kecerdasan emosi Anda)? Mari kita simak!
Pertama, dari sisi kesehatan. Beberapa data ini diambil dari para ahli kardiologi di Singapura. Ternyata, kurangnya tidur yakni 5 jam atau kurang menyebabkan peningatan tekanan darah hingga 350% atau 500% dibandingkan dengan mereka yang tidurnya 6 jam tiap malam. Padahal, seperti kita ketahui, tingginya tekanan darah, bisa membunuh Anda! Penelitian lebih lanjut juga membuktikan bahwa orang muda (25-49 tahun) yang kurang tidur, berpeluang terkena serangan jantung. Riset lainnya juga menunjukkan bahwa mereka yang tidurnya kurang dari 5 jam, berpeluang terkena serangan jantung tiga kali lebih besar! Dan dalam sebuah publikasi tahun 2004 dikatakan bahwa semalam kekurangan tidur saja, menyebabkan beberapa zat beracun dalam tubuh meningkat drastis seperti Interleukin-6 (IL-6), Tumour Necrosis Factor-Alpha (TNF-alpha) dan C-reactive protein (cRP). Padahal, kelebihan zat inilah penyebab utama kanker, arthritis serta penyakit jantung.
Kedua, dari sisi emosi. Pada bulan Oktober 2007, Live Science mempublikasikan hasil penelitian yang dilakukan oleh Matthew Walker, seorang neuroscientist dari University of California di Berkeley yang terkait dengan urusan tidur serta emosi. Apa yang dilakukan? Mereka membagi dua kelompok orang, yang tidurnya cukup serta yang tidurnya sengaja diganggu. Lantas, mereka kemudian menunjukkan pada kedua kelompok ini beberapa puluh gambar, mulai dari gambar biasa hingga gambar yang memancing emosi seperti korban serangan hiu hingga tubuh yang dimutilasi. Sementara itu, reaksi emosi mereka discan pula dengan menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI). Hasilnya, cukup menarik. 60% dari mereka yang kurang tidur, reaksi emosinya menjadi lebih tidak stabil dan tidak terkendali. Selain itu, bagian pre-frontal korteks yakni bagian otak yang berurusan dengan penalaran emosi, juga tidak berfungsi optimal pada mereka yang kekurangan tidur.  Secara umum, kemudian disimpulkan bahwa mereka yang kekurangan tidur, cenderung lebih gampang mudah terpicu emosinya. Lagipula, mereka yang kurang tidurpun menjadi lebih sulit bergembira dan penalarannya kurang optimal lantaran bagian korteks yang mengatur emosi, bekerja lebih sulit.
Apa Pelajarannya?
Inti pembelajarannya sederhana yakni tidurlah yang cukup. Tidur yang cukup berarti 6 jam atau lebih. Dan untuk mengetahui apakah Anda tidurnya cukup atau kurang, salh satu indicator yang kuat adalah dengan menggunakan Epworth Sleepiness Scale ini. Ada 8 pertanyaan penting sebagai indicator bagi Anda. Cobalah perhatikan, apakah Anda gampang tertidur dan mengantuk pada 8 situasi ini: (1) Saat duduk dan membaca; (2) Saat nonton TV; (3) Sat duduk-duduk di rungan public (nonton film,dll); (4) Saat duduk sejam di mobil; (5) Saat duduk-duduk santai di sore hari; (6) Saat duduk dan ngobrol dengan seseorang; (7) Saat duduk tenang sendirian setelah makan siang; (8) Saat di mobil duduk sejenak menunggu sesuatu (misalkan  tunggu orang atau lampu lalu lintas). Jika Anda punya 3 hal yang Anda jawab dengan kata YA, maka manurut skala ini, sudah saatnya Anda mulai harus mempertikan jam tidur Anda!
Mulai sekarang, janganlah menjadi orang yang terlalu bergembira ketika Anda bisa terus-menerus bekerja tanpa tidur ataupun tanpa istirahat sama sekali. Hasil penelitian di atas telah menunjukkan bahwa hal tersebut tidak saja berdampak buruk bagi fisik Anda tetapi juga kecerdasan emosi (EQ) Anda. Tak mengherankan, jika di dunia barat ada istilah bahwa tatkala seseorang marah-marah, maka ia dikatakan “ia tidur di sisi yang sala” (sleeping on the wrong side). Jadi, sejak dulu orang suda tahuada pengaruh tidur terhadap kualitas emosi seseorang. Dan sebenarnya tidak dibutuhkan riset ataupun penelitian canggih untuk membuktikan bahwa, kurangnya tidur Anda, tidak saja berdampak buruk bagi fisik Anda tapi juga mengganggu emosi Anda. Anda sudah sering merasakannya sendiri!
Anthony Dio Martin
Trainer, Inspirator, Penulis buku-buku Bestseller
Pertanyaan dan komentar, kontak www.anthonydiomartin.com/go/facebook

Kesuksesan Dimulai Dari Rumah!


Di akhir Juni, dunia serta bangsa kita merayakan dua peritiwa yang sebenarnya berdekatan. Pada tanggal 26 Juni, kita perngati hari Narkoba sedunia. Lantas, tanggal 29 Juni kita peringat sebagai hari Keluarga nasional. Adakah hubungan diantara keduanya? Oya, tentu saja! Bicara soal keluarga dan narkoba, tiba-tiba saya teringat dengan momen beberapa kali saya memberikan seminar soal keluarga. Salah satunya, saya pernah membawaan soal “EQ for Parenting” di Palembang. Saat ini, saya duet bersama rekan pembicara yang juga banyak bicara soal keluarga, Ayah Eddy. Satu hal yang saya sukai dari Ayah Eddy selain passionnya yang luar biasa soal anak-anak, juga semboyannya, “Indonesia Strong from Home!”. Saya sangat setuju sekali dengan semboyan ini, karena ada hubunganya dengan apa yang ingin saya ceritakan disini.
Salah satu kisah yang cukup menginspirasi saya adaah kisahnya Ronny Pattinasarany, salah satu mantan pemain sepakbola terbaik yang pernah dimiliki PSSI. Semua penggemar sepakbola Indonesia yang hidup di masa tahun 70-an, pasti mengenalnya.   Dia hampir selalu dipercaya menjadi anggota tim nasional selama kurun waktu 1979-1985. Ronny adalah pemain All Star Asia, juga olahragawan terbaik Indonesia. Dari sepakbola, Ronny mendapatkan segalanya, karir, sukses dan uang. Namun, di balik suksesnya, Ronny memiliki kisah tragis menyangkut dua anak laki-lakinya. Kesibukan Ronny mengurus sepakbola ternyata harus dibayar mahal. Waktunya untuk keluarga berkurang dan akibat kurang perhatian, kedua putranya pun terlibat narkoba. Ujung-ujungnya, di tahun 1985, Ronny terpaksa mengambil keputusan berat yakni meninggalkan dunia sepakbola demi mengurus anak-anaknya. Namun, persoalanpun tidak segampang itu selesai. Karena sudah kecanduan, meskipun ada Ronny, sebagai ayah yang mendampingi kedua anaknya yang terkena narkoba, tetap saja tidak banyak perubahan. Bahkan, di awal-awal Ronny terpaksa harus berkompromi membiarkan anak terus-menerus terlibat dengan narkoba. Namun, singkat cerita, berkat kesetiaan, keinginan kuat untuk mendampingi serta kekuatan keluarga dan proses pemulihan yang melihatkan kerohanian, akhirnya  anaknyapun bisa pulih. Kisah inipun kemudian dibukukan dalam buku “Dan, Kedua Anakku Sembuh dari Ketergantungan Narkoba”.
Kekuatan Dari Rumah
Memang, seringkali saya katakan, “Ketika kita tidak sukses dalam rumah kita, kita pun tidak akan pernah bangga dengan apa yang kita capai di luar rumah kita”. Dari banyak kasus yang saya alami, meskipun orang-orang mengalami kesuksesan yang luar biasa di luar, namun biasanya biasanya masih mengalami kehampaan dan keterasingan, karena ia tidak merasakan sukses itu di rumahnya. Misalkan saja, saya pernah bicara dengan seorang  bintang yang sukses di seleksi penyanyi favorit Indonesia. Iapun dengan sedih berujar, “Mungkin saja, saya dielu-elukan sukses di luar. Tetapi, ada satu hal yang sebenarnya mengganjal dan membuat saya tidak merasa sukses-sukses amat, karena saya merasa kesuksesan saya tidak pernah diakui di rumah saya. Orang tua saya sebenarnya memandang sebelah mata hobi menyanyi saya ini”. Di sinilah, rumah menjadi asal muasal segalanya, kehancuran juga kesuksesan.

Lantas, bagaimanakah di tengah kesibukan dan aktivitas kita, kita bisa menjadikan rumah kita sebagai pusat kekuatan buat kita? Marilah kita ingat dengan prinsip menjadikan rumah kita menjadi HOME, yakni Help!-Open-Motivate-Equally! Apakah artinya? Pertama, rumah kita harus selalu menjadi pusat pertolongan. Artinya, tatkala ada masalah,sebaiknya semua orang di rumah selalu berpikir tentang orang di rumahnya sebagai pencari solusi. Jika tidak, maka hati-hatilah! Berikutnya, rumah kita terbuka untuk membicarakan apapun tanpa ‘dijudge’. Ada banyak keluarga yang sangat tertutup untuk bicara sehingga anaknya tidak bisa mengeskpresikan dirinya. Ketiga, rumah harusnya bisa mendukung dan memotivasi. Jika tidak, dari mana lagi, seorang anak dan juga orang lainnya di rumah mendapatkan support dan dukungan. Ada kalimat bagus dari sorang artis yang kehidupan keluarganya sangat religious dan harmonis, tatkala ia berucap, “Ketika semua orang di dunia mencelaku, saya tahu tempat dimana saya akan selalu didukung yakni keluargaku”. Betapa menyenangkannya kalau rumah bisa menjadi pusat motivasi buat kita. Dan akhirnya, di rumah semua orang diperlakukan equal, adil dan tidak dibeda-bedakan.  Saya sendiri pernah menonton kisah kehidupan keluarga Kardashian, yang menceritakan bagaimana Kim Kardashian yang sukses, tetap saja diperlakukan secara sama rata dengan kakak-kakaknya tatkala dirinya tiba di rumah. Itulah seharusnya sebuah rumah yang menjadi kekuatan dan sumber kesuksesan buat kita. Our success and failure, starts from home!

No comments:

Post a Comment